Tampilkan postingan dengan label seni dan budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni dan budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Silat Seliwa Jurus Tujuh dari Bambularangan

Bagi masyarakat Betawi belajar silat adalah kewajiban kedua setelah belajar mengaji yang harus dipelajari sejak masa kanak-kanak. Tak heran, ilmu silat pun berkembang di tanah Betawi dengan beragam jenisnya, mulai dari Silat Cingkrik, Silat Beksi hingga Silat Seliwa dari Bambularangan, Kalideres, Jakarta Barat. Namun, tak banyak yang tahu jika Silat Seliwa dipopulerkan oleh almarhum Haji Sama’ bin Saleh.

Konon kabarnya, Haji Sama bin Saleh ini juga keturunan langsung dari pendiri kampung Bambularangan. Beliau mewarisi aliran silat ini dari gurunya Ki Muhatim yang berasal dari kampung Gondrong, Tangerang. Tidak hanya itu, orangtua Haji Sama` adalah orang terpandang yang juga jago pukul (ahli silat) pada zamannya.

Semasa Ki Saleh masih hidup, Haji Sama` yang saat itu masih remaja bisa melakukan dan mendapatkan apa saja yang dia inginkan, tentunya karena orang sungkan terhadap kebesaran nama bapaknya. “Telunjuk gua laku, apa nyang gue pengenin gua tinggal nunjuk," ujar Haji Sama` seperti diceritakan Adam Moeslih salah satu keturunan yang masih kerabat dekat Haji Sama` kepada beritajakarta.com di pelataran halaman kantor Walikota Jakarta Barat.
Petaka datang ketika sang ayah yang dibanggakannya meninggal dunia. Haji Sama` merasa orang sudah tidak lagi “memandang” dia. Karena peristiwa itu, Haji Sama` mulai sadar jika dia ingin disegani orang, maka dia juga harus sehebat ayahnya. Maka dengan membayar dua pikul dongkrak gabah cere dan gabah ketan sebagai jaminan, dia mengajukan diri berguru kepada Ki Muhatim, guru Silat Betawi Jurus Tujuh. Belajar pukul dilakukan di pelataran rumah Haji Jibi, sebuah rumah kebaya berundak dua yang menghadap utara, di halamannya tumbuh sebatang pohon Maja. Haji Sama` bin Saleh adalah murid yang cekatan dan berani, sehingga dengan mudah ia menyerap jurus-jurus yang diajarkan sang guru.

Di samping belajar pukul, Haji Sama` juga belajar “elmu”. Di antaranya adalah Elmu Pelamuran, konon ilmu dalem ini dimiliki juga oleh Mat Item, raja garong dari Srengseng yang tewas ditembak pasukan dari Batalion Kala Hitam atas petunjuk Ki Medo tokoh masyarakat setempat di anak kali Mookervart, Kampung Duri, setelah diburu selama tiga bulan. Satu lagi ilmu yang dikuasai Haji Sama` bin Saleh adalah Elmu Kebal Aer Keras.

Kehebatan pukul Silat Seliwa jurus tujuh pernah digunakan Haji Sama` ketika dia menerima tantangan Lurah Kosambi untuk bejaban (adu tanding). “Kepelannya segede gayung, kalo kita ampe kepukul, kita bisa kaga kena nasi tiga ari," begitu Adam menuturkan kisah Haji Sama` dengan logat Betawinya yang kental.

Jurus Seliwa peninggalan Haji Sama` di antaranya, Jurus Nampan Duit, Jurus Sosot, Jurus Ketok, Jurus Gecek, Jurus Berarak Miring, Jurus Berarak Rendah, dan Jurus Sambat.

Kini, Haji Sama` telah meninggal dunia, dan tidak semua keahlian pukul Betawi serta yang dikuasainya sempat diwariskan kepada kerabatnya. Karena sampai wafat 2 Januari 2006 silam di usia menjelang 70 tahun, Haji Sama` tidak memiliki keturunan. "Kini Silat Seliwa Jurus Tujuh sudah sedikit sekali yang masih menghapalnya, mungkin begitulah akhir dari perguruan silat yang ditinggal mati guru besarnya, lama-lama meredup dan dilupakan orang," ungkap Adam.

Batu Wulung, Batu Akik Khas Betawi

Batu alam atau yang lebih dikenal dengan sebutan batu akik, merupakan salah satu potensi alam yang dimiliki nusantara ini. Tidak jarang, pemberian nama batu akik diambil dari nama daerah di mana batu tersebut berasal. Lantas bagaimanakah dengan Jakarta? Apakah Jakarta yang notabene ibu kota negara juga memiliki batu akik asli?

Ya, seperti halnya daerah lain, Jakarta juga memiliki sebuah batu akik yang keberadaannya telah ada sejak ratusan tahun lalu dan menjadi ciri khas batu akik asal tanah Betawi. Batu akik tersebut dikenal dengan sebutan batu wulung. Konon, menurut legendanya, batu yang pertama kali ditemukan di daerah aliran Kali Cibeet, Bekasi, ini ditenggarai juga memiliki kekuatan ghaib yang dapat berfungsi sebagai pelindung diri atau memiliki khasiat kekebalan tubuh.

Ciri fisik batu wulung yang paling menonjol adalah, warnanya yang hitam namun tidak berkilau. Bentuknya, cenderung bulat dan keras seperti layaknya batu kali biasa. Begitupula jika dilihat secara sepintas, batu wulung tidak memancarkan keindahan bila dibandingkan dengan batu mulia atau batu pancawarna. Namun, di sisi lain banyak kalangan yang meyakini, batu wulung memiliki kelebihan dalam hal kekuatan mistis.

Salah seorang kolektor benda-benda antik dan sejarah, Azis Munandar, mengemukakan, khasiat yang terkandung dalam batu wulung tidaklah sebanding dengan bentuknya. Meski bentuknya sederhana dan jauh dari kesan keindahan, tapi harga batu wulung bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah lantaran khasiatnya.

Batu wulung, jelas Azis, telah digunakan sejak ratusan tahun silam oleh para jagoan alias jawara Betawi sebagai jimat terutama untuk menghadapi musuh. “Centeng atau mandor banyak yang menggunakan batu wulung karena diyakini punya kelebihan untuk dijadikan tameng ataupun berkhasiat sebagai anti bacok dan anti peluru orang Belanda,” ujar Azis kepada beritajakarta.com.

Dalam penggunaannya, batu wulung selalu dibentuk atau diikatkan pada sebuah cincin dengan menempatkan batu wulung sebagai matanya. Menurut kebiasaan, cincin bermatakan batu wulung dikenakan pada jari manis. Tapi tak jarang batu wulung juga dibungkus dalam sebuah kain yang kemudian diikatkan dan dijadikan satu dengan pakaian ataupun pada sabuk yang berfungsi sebagai jimat.

Azis menambahkan, untuk memiliki batu ini dulu para jawara atau jagoan Betawi mendapatkan warisan dari keturunan atau melalui proses ritual secara ghaib sehingga batu tersebut keluar dari dalam tanah.

Selain sebagai benda bertuah dan memiliki kekuatan kebal terhadap senjata, batu wulung juga memiliki kekuatan komplek seperti memikat hati wanita, menangkis atau menolak santet, menambah kewibawaan pemilik, membuat pimpinan supaya lebih sayang bawahan atau sebaliknya, memudahkan segala urusan, dan bisa juga sebagai anti cukur.

Azis menambahkan, selain batu wulung beberapa batu alam atau akik yang menjadi bagian dari peninggalan adat Betawi adalah, batu pandan nanas, batu pandan sutra, jenis ati ayam, dan badar asem. Beberapa jenis batu akik tersebut, sambung Azis, memiliki kekuatan mistis yang berbeda. Bahkan jika batu tersebut asli, harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

”Contohnya pandan sutra memiliki khasiat sebagai kharismatik dagang. Pandan sutra dan badar asem juga banyak digunakan sebagai kewibawaan, sementara itu ati ayam juga dapat sebagai penangkal bala dan kekebalan,” kata pria yang bermukim di Kelapagading, Jakarta Utara ini.

Menurut Azis, penggunaan batu akik di kalangan masyarakat Betawi sudah dilakukan sebelum zaman pendudukan Belanda menginjak kakinya di ranah Betawi. Dulu pada umumnya, ungkap Azis, batu akik digunakan oleh kalangan alim ulama, saudagar, pedagang, jawara, dan juga para bangsawan. Khusus ulama, selain menggunakan batu lokal, juga menggunakan batu Timur Tengah yakni virus Abdul Rodjak.

Silat Beksi, Hadir di Tanah Betawi Sejak Abad 18

Sejak dahulu kala, masyarakat Betawi selalu dikenal dan diidentikan dengan pencak silat dan pengajiannya. Kabarnya, sejak zaman kompeni Belanda, remaja Betawi selalu dituntut untuk rajin beribadah dan mampu menjaga diri dengan mempelajari ilmu beladiri pencak silat. Tak heran ilmu beladiri ini menjadi salah satu jenis kebudayaan milik masyarakat Betawi.

Di tanah Betawi ini, ternyata banyak menyimpan berbagai jenis seni beladiri, salah satunya silat Beksi. Seni beladiri yang satu ini merupakan perpaduan antara bela diri dengan seni, keindahan, dan ketepatan dalam mencapai sasaran lawan. Tak hanya itu, meski tak mengenyampingkan keindahan gerak, kekuatan tenaganya tak bisa dianggap remeh. Kecepatan serta kedinamisan dalam gerak inilah yang dapat memukul lawan hingga tak berdaya dan mungkin berakibat fatal.

Dalam silat Beksi, olah pukul yang menitikberatkan pada sikut atau bagian luar daerah lengan menjadi ciri khas pukulan jenis silat ini. Dengan memanfaatkan kekuatan lawan, pukulan beksi dapat mengakibatkan lawan terluka dan berakibat fatal. Hal inilah yang diandalkan jagoan-jagoan Betawi saat berhadapan dengan lawannya.

Salah satu tokoh silat Betawi Beksi, Bang Endang SH mengaku, keseluruhan gerakan yang terangkum dan tertata secara dinamis ini menjadikan silat Beksi sebagai ilmu beladiri yang berbeda dengan ilmu beladiri lainnya. Dari keindahan gerak inilah, silat Beksi banyak digunakan atau diperagakan dalam prosesi palang-pintu pada acara pernikahan adat Betawi bagian Selatan.

Pada silat Beksi terdapat 18 jurus dengan 9 jurus dasar yang disebut formasi. Sementara, atraksi Betawi yang sering melibatkan silat Beksi adalah prosesi Palang Pintu dan Sambut Makna dengan menggunakan formasi jurus beregu dan jurus individu. “Karena kemantepan dalam gerak pas dilakukan pada palang-pintu agar lebih greget,” kata Endang kepada beritajakarta.com.

Selanjutnya Endang mengaku, jika pencak silat Beksi sudah ada semenjak zaman kolonial Belanda. Hal itu dibuktikan dengan adanya penggunaan beladiri ini semenjak abad ke 18. Jenis beladiri ini telah diwariskan secara turun temurun hingga sampai kepada tokoh besar silat Beksi, H Hasbullah, yang membuka perguruan Beksi di Kabayoranlama, Jakarta Selatan.

Endang mengisahkan bawa silat Beksi ini berasal dari China yang dibawa oleh Lie Ceng Oek. Di Tanah Betawi ini kemudian Lie Ceng Oek membentuk sebuah perguruan pencak silat di daerah Dadap, Tangerang. Untuk melestarikan ilmu silat Beksi, Lie Ceng Oek menurunkan ilmua kepada muridnya yang bernama Ki Marhali dan dilanjutkan oleh H Ghazali. Dari situ kemudian ilmu diturunkan lagi kepada H Hasbullah dan generasi berikutnya.

Dalam perkembangannya, silat Beksi tumbuh di daerah Betawi pinggiran udik atau daerah Selatan Jakarta seperti daerah Pesanggrahan, Kebayoranlama, Ciledug, dan sebagian daerah di Tangerang. Perpaduan ilmu Beksi yang dibawa Lie Ceng Oek dengan gerakan yang diciptakan oleh sesepuh Beksi asal Betawi, menjadikan ilmu Beksi ini sebagai seni beladiri Betawi.

Golok Betok Pusaka Asli Betawi Berusia 800 Tahun

Keragaman etnis dan budaya menjadi ciri khas dan kekayaan tersendiri bangsa Indonesia, dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Uniknya, setiap etnis di Indonesia memiliki senjata khas yang menjadi simbol kebesaran dari sejumlah etnis tersebut. Etnis Jawa misalnya, memiliki keris sebagai senjata kebesaran mereka, etnis Sunda terkenal dengan kujangnya, etnis Madura terkenal dengan celuritnya, dan etnis Betawi yang masyhur dengan Golok Betoknya yang berumur 800 tahun.

Sebagai sebuah senjata pusaka, keberadaan Golok Betok merupakan fase awal asal muasal senjata dalam sejarah nusantara. Bahkan, sebelum senjata khas Jawa Barat kujang ada, Golok Betok sudah ada konsepnya terlebih dahulu. Namun, karena Kerajaan Padjajaran memohon kepada Sang Empu agar dibuatkan secepatnya sebuah senjata bernama kujang, pembuatan Golok Betok menjadi tertunda.

“Saat ini keberadaan Golok Betok yang dulunya biasa digunakan para jagoan dari Betawi sudah hampir punah,” cerita Aziz Munandar, ahli pengobatan tradisional yang juga salah seorang kolektor benda berharga itu kepada beritajakarta.com.

Di tangannya, senjata pusaka berusia 800 tahun itu terlihat masih terawat dengan baik, dan tidak sembarang orang bisa melihatnya dari dekat. Karena keberadaannya yang mulai langka, Azis menjamin hanya segelintir orang saja yang masih memilikinya. Kalau pun ada di tangan orang awam, bisa jadi Golok Betok itu adalah golok imitasi yang tidak memiliki sejarah panjang sebagaimana Golok Betok miliknya.

Tim beritajakarta.com cukup beruntung dapat melihat langsung dan memegang senjata pusaka khas Betawi asli tersebut. Dilihat dari bentuknya, Golok Betok tak ubahnya seperti senjata golok lain. Hanya saja, senjata ini terlihat lebih gemuk dibanding golok pada umumnya, dan bentuknya sedikit bantet.  Sedangkan mata pisau Golok Betok terbuat dari baja hitam dengan gagang kayu hitam. Dahulu, Golok Betok biasa digunakan sebagai pendamping golok jawara dalam kesehariannya.

Menurut Azis, Golok Betok dibuat lebih awal dari pisau raus, gaman, ataupun keris. Azis meyakinkan jika Golok Betok yang menjadi koleksi miliknya itu adalah asli. Bentuk badan dan mata pisau yang terbuat dari baja hitam dengan gagang gayu hitam atau gading menandakan keaslian senjata pusaka khas Betawi tersebut. “Saya berani bertaruh kalau senjata yang ada ini asli,” ungkapnya.

Tak hanya Golok Betok senjata peninggalan Betawi yang menjadi koleksi pribadi Azis Munandar. Beberapa senjata kuno Betawi yang berumur ratusan tahun pun masih tersimpan rapi dan terawat di kediamannya. Beberapa senjata khas Betawi miliknya adalah kujang Betawi yang juga berusia 800 tahun, pisau raus berusia 500 tahun, dan pedang cengkrong yang berusia 600 tahun berbentuk melengkung pada bagian punggungnya. Pedang ini merupakan satu-satunya pedang yang tersisa. Hal tersebut telah dibuktikannya setelah Azis berkali-kali menghadiri pameran senjata Betawi. Tak ada senjata jenis pedang cengkrong. Jika pun ada dipastikan itu pedang buatan atau imitasi.

Azis menyebutkan, saat ini koleksi senjata pusaka khas Betawi tinggal berjumlah 5 buah. Sementara koleksi senjata nusantara yang dimilikinya berjumlah lebih dari 200 buah, mulai dari pedang hingga keris. Dirinya juga mengklaim beberapa benda pusaka koleksinya merupakan milik tokoh sejarah ternama antara lain pisau Pangeran Jayakarta dan keris peninggalan Aru Palaka.

Selasa, 12 Oktober 2010

Pantun Betawi Gak Ade Matinye


Anak Arab pulang ke Arab, Sampe di Arab maen robane, Susa duduk susa tengkurap, Berak mencret dalem celane.  Beberapa bait pantun di atas merupakan kutipan dari Lagu Pesisiran, Puisi-Puisi Betawi karya budayawan Betawi, Ridwan Saidi. Ya, pantun merupakan kebudayaan Betawi yang diyakini ada sejak ribuan tahun lalu.

Pada tahun 1930 hingga 1950, pantun digunakan sebagai potret sosial masyarakat atau ungkapan isi hati. Di tahun 50-an, banyak bermunculan penyair Betawi, di antaranya Susi Aminah Aziz, Tuti Alawiyah. Kemudian, generasi berikutnya seperti Ridwan Saidi, Zeffry Alkatiri, Nur Zaen Hae, Ihsan Abdul Salam, Aba Mardjani.

Saat ini pantun Betawi masih terdengar di beberapa wilayah Jakarta, meliputi permukiman masyarakat Betawi yang mulai terpinggirkan seperti, Kerawang, Bekasi, Depok serta Tanggerang, disamping daerah lain di Jakarta seperti Marunda, Tanahabang, Condet, Pasarminggu, Rawabelong, Kebonjeruk, dan perkampungan Betawi di Jagakarsa.

Penggunaan pantun di masyarakat Betawi masih banyak digunakaan saat acara pinangan adat Betawi, lagu khas Betawi, termasuk beberapa lagu balada yang dinyanyikan seniman tersohor Betawi, Alharhum Benyamin Sueb.

Seniman Betawi asal Kemayoran, Rachmad Hadi, mengaku, pantun Betawi memiliki ciri ataupun corak yang tak dimiliki daerah lain, yaitu menggunakan bahasa Betawi dan isinya berkaitan dengan kehidupan masyarakat Betawi, mulai dari adat istiadat, agama, tingkah laku, dan keadaan alam Betawi.

Berkenaan dengan isi pantun, sejumlah besar isi pantun Betawi mengungkapkan berbagai nasihat yang berkaitan dengan etika, moral, adab, sopan santun, dan ajaran-ajaran agama, juga begitu banyak kritik sosial. Jadi peristiwa apa pun, termasuk penyampaian pesan dalam diri, dapat disampaikan secara lepas.

Pantun dalam adat Betawi erat kaitannya sebagai penyampaian pesan dalam peradapan masyarakat sekitar. Hal ini dapat dilihat dalam pantun yang disampaikan secara berbalas saat acara pernikahan masyarakat asli Betawi. Pantun yang disampaikan secara berbalas, lanjut Rachmad, memiliki tujuan dan maksud yang ingin disampaikan.

Sebagai contoh, pantun berbalas seperti, "Kude lumping dari Tangerang, kedipin mate cari menantu, pasang kuping lu terang-terang, adepin dulu jago gue satu-per satu". Pantun itu sebagai syarat yang diajukan oleh mempelai wanita dalam menerima pihak mempelai pria. Bisa nggak mempelai pria menerima syarat itu.

Biasanya mempelai pria akan membalas pantun dengan bunyi, "Bintang seawan-awan, aye itungin beribu satu, berape banyak Abang punya jagoan, aye bakal adepin satu per satu". Ini menunjukan mempelai pria menyanggupi syarat meski nyawa jadi taruhannya.

Dijelaskan Rachmad, masuknya pantun ke Betawi dibawa oleh pedagang Gujarat pada abad ke 15. Saat itu, pantun masih bernafaskan Islami dan mengandung kaidah-kaidah atau nasihat keagamaan. Barulah pada abad ke-17 hingga ke-18, orang Melayu yang datang ke Betawi memperkaya khasanah pantun menjadi sebuah syair ungkapan isi hati.

Selama ratusan tahun berbaur dengan masyarakat asli Betawi, akhirnya pantun menjadi sebuah penyampaian karakter masyarakat Betawi, dengan memodifikasi syair berbahasa betawi yang terkesan cuek dan apa adanya. Hingga setelah kemerdekaan, banyak bermunculan seniman Betawi yang membawa perubahan isi pantun dengan gaya khas penyampaian masyarakat Betawi.